Sanggau, Kalimantan Barat — Di tengah tantangan zaman yang makin kompleks, upaya menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak sejak dini menjadi semakin penting. Di Desa Pengadang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, Mesjid Al-Ikhlas tampil sebagai satu-satunya pusat pembelajaran agama anak-anak yang secara rutin dan konsisten menggelar pengajian.
Meski di desa tersebut terdapat tiga masjid—yakni Masjid Al-Ikhlas, Masjid Al-Hasanah di Desa Sotok, dan Masjid Al-Hikmah yang juga berada di Pengadang—namun hanya Masjid Al-Ikhlas yang konsisten mengadakan pengajian khusus bagi anak-anak. Suasana di masjid itu pun lebih semarak dengan kehadiran anak-anak yang setiap harinya belajar mengenal huruf hijaiyah, membaca Juz ‘Amma, hingga menghafal doa-doa harian.
Kegiatan pengajian anak-anak bukan hanya menjadi sarana keagamaan, tapi juga bagian dari pendidikan karakter. Anak-anak belajar nilai kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, serta membentuk kebiasaan baik seperti disiplin dan cinta ilmu.
“Yang sudah pandai saya minta mengajarkan yang belum mahir membaca Al-Qur’an,” tutur Muhammad Ali, satu-satunya pengajar di masjid tersebut, Senin (28/7). “Ini dilakukan agar mereka juga bisa menggantikan saya suatu saat jika saya berhalangan.”
Muhammad Ali mengajar dengan sabar dan penuh dedikasi. Ia tidak hanya fokus pada pelafalan dan hafalan, tetapi juga membimbing anak-anak memahami makna bacaan mereka. Ia percaya, penguatan nilai sejak dini adalah bekal utama dalam membangun karakter generasi masa depan.
Berbagai penelitian dan pengalaman menunjukkan bahwa mengaji sejak usia dini memberikan dampak positif dalam berbagai aspek kehidupan anak. Selain memperkenalkan konsep keimanan dan ketuhanan, kegiatan ini juga dapat meningkatkan kemampuan sosial anak, seperti bekerja sama, menghargai sesama, dan berempati.
“Anak-anak itu cepat menyerap, apalagi kalau dilakukan secara rutin. Nanti mereka jadi terbiasa, dan bahkan percaya diri ketika diminta menjadi imam atau memimpin doa,” tambah Ali.
Dalam kegiatan sehari-hari, anak-anak dibagi dalam beberapa kelompok berdasarkan tingkat kemampuannya. Mereka yang sudah menguasai bacaan Juz ‘Amma, didorong untuk mulai membaca Al-Qur’an secara penuh. Sementara yang masih baru dikenalkan dengan huruf hijaiyah diberikan bimbingan dasar. Selain itu, anak-anak juga diajarkan doa-doa harian dan kisah-kisah nabi sebagai bagian dari materi penguatan iman.
Pengajian di Masjid Al-Ikhlas juga didukung oleh orang tua dan tokoh masyarakat setempat. Mereka menyadari pentingnya lingkungan religius yang sehat sebagai benteng dari pengaruh negatif, terutama di era digital yang rawan dengan konten tidak sesuai usia anak.
Masyarakat setempat berharap agar kegiatan semacam ini bisa diperluas ke masjid-masjid lain di Desa Sotok dan Pengadang. “Sayang kalau masjid hanya ramai saat salat Jumat. Seharusnya bisa menjadi pusat pendidikan juga, terutama untuk anak-anak kita,” ujar salah satu warga.
Langkah Masjid Al-Ikhlas dan pengabdian Muhammad Ali menjadi cermin sederhana tentang bagaimana pendidikan agama yang konsisten dan menyeluruh dapat dilakukan bahkan dengan sumber daya terbatas. Di tengah keterbatasan, dedikasi tetap menjadi kunci utama. (*)







































